Friday, 12 December 2014
Kisah Pohon Apel
Kisah Pohon Apel
Sebagian
dari kita mungkin sudah pernah membaca cerita ini tapi apa salahnya saya
muat
kembali di pages ini buat saudara-saudara kita yang belum pernah membaca cerita
ini
dan
sebagai bahan review buat yang sudah pernah membaca. Semoga bermanfaat………
Suatu
masa dahulu, terdapat sebatang pohon apel yang amat besar.Seorang kanakkanak
lelaki
begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel ini setiap hari. Dia memanjat
pohon
tersebut, memetik serta memakan apel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia
beristirahat
lalu terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu
menyayangi
tempat
permainannya.
Pohon
apel itu juga menyukai anak tersebut. Masa berlalu… anak lelaki itu sudah
besar
dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari
bermain
di
sekitar pohon apel tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon
apel
tersebut
dengan wajah yang sedih.
“Marilah
bermain-mainlah di sekitarku,”
ajak pohon apel itu.
“Aku
bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau,” jawab remaja
itu.
“Aku
mau permainan. Aku perlu uang untuk membelinya,”
tambah remaja itu dengan nada
yang
sedih.
Lalu
pohon apel itu berkata, “Kalau begitu,
petiklah apel-apel yang ada padaku.
Juallah
untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang
kauinginkan.”
Remaja
itu dengan gembiranya memetik semua apel di pohon itu dan pergi dari situ.
Dia
tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih.
Masa
berlalu…
Suatu
hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira.
“Marilah
bermain-mainlah di sekitarku,”
ajak pohon apel itu.
“Aku
tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku
ingin
membina
rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bisakah kau menolongku?”
Tanya
anak itu.
“Maafkan
aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku
yang
besar ini dan kau buatlah rumah daripadanya.”
Pohon apel itu memberikan cadangan.
Lalu,
remaja yang semakin dewasa itu memotong ke semua dahan pohon apel itu dan pergi
dengan
gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannya merasa sedih
karena
remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.
33
Suatu
hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya
adalah
anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang
dan
dewasa.
“Marilah
bermain-mainlah di sekitarku,”
ajak pohon apel itu.
“Maafkan
aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku
sudah
dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai
perahu.
Bolehkah kau menolongku?” Tanya lelaki itu.
“Aku
tidak mempunyai perahu untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong
batang
pohon ini untuk dijadikan perahu. Kau akan dapat belayar dengan gembira,” kata
pohon
apel itu.
Lelaki
itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudian
pergi
dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu.
Namun
begitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin di mamah usia, datang
menuju
pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon
apel itu.
“Maafkan
aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada kau. Aku sudah
memberikan
buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat
perahu.
Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan
nada
pilu.
“Aku
tidak mahu apelmu karena aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak
mahu
dahanmu
kerana aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mahu batang pohonmu kerana
aku
tidak berupaya untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua
itu.
“Jika
begitu, istirahatlah di perduku,”
kata pohon apel itu. Lalu lelaki tua itu duduk
beristirahat
di perdu pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis kegembiraan.
Tahukah
kamu. Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah
kedua-dua
ibu bapak kita. Saat kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika
kita
meningkat remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita
tinggalkan
mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita di dalam kesusahan.
Namun
begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia
dan
gembira
dalam hidup. Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam
terhadap
pohon
apel itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak
masa kini
melayani ibu bapak mereka
Memohon Nafkah
Memohon Nafkah
Fadlan
datang kepada seorang kyai di kampungnya. Ia merasa bingung. Sudah banyak
cara
telah ia tempuh, namun rezeki masih tetap sulit ia cari.
Kata
orang, rezeki itu bisa datang sendiri, apalagi kalau sudah menikah. Buktinya,
sudah
3 tahun ia menikah dan dikarunia dua orang anak, ia masih tetap hidup
luntang-lantung
tak
menentu.
Benar,
keluarganya tidak pernah kelaparan sebab tidak ada makanan. Namun kalau
terus-terusan
hidup kepepet dan tidak punya pekerjaan, rasanya tidak ada kebanggaan diri.
Ia
pun datang kepada Kyai Ahmad untuk minta sumbang saran. Kalau boleh sekaligus
minta
do’a dan pekerjaan
darinya. Terus terang, ia sendiri kagum dengan sosok Kyai Ahmad
yang
amat bersahaja. Tidak banyak yang ia kerjakan, namun dengan anak 9 orang,
sepertinya
mustahil
bila ia tidak pusing memikirkan nafkah keluarga. Tapi nyatanya, sampai sekarang
Kyai
Ahmad tetap sumringah di mata Fadlan. Tidak pernah ia lihat Kyai Ahmad bermuka
muram
seperti dirinya. Makanya hari itu, Fadlan datang untuk meminta nasehat kyai
tersebut.
“Hidup
ini adalah adegan. Kita hanya wayang, sementara dalangnya adalah Gusti
Allah!
Jadi, manusia itu hidup karena disuruh ‘manggung’ oleh Dalangnya!” Kyai Ahmad
membuka
penjelasan dengan sebuah ilustrasi ringan.
“Gak
mungkin… kalau wayang itu
manggung sendiri. Pasti, ia dimainkan oleh
Dalang.
Sementara selama di panggung, pasti Dalang akan memperhatikan nasib wayang itu!
Begitu
juga manusia… gak mungkin dia
hidup di dunia, tanpa diperhatikan segala
kebutuhannya
oleh Gusti Allah! Sudah paham belum kamu, Fadhlan?!” Kyai Ahmad
mengakhiri
penjelasannya dengan sebuah pertanyaan.
“Tapi
pak kyai…, kalau Gusti Allah
benar menjamin hidup hamba-Nya…
kenapa
hidup
saya seperti sia-sia begini ya…
nyari nafkah saja kok susah!”
Fadlan menyampaikan
keluhnya.
“Oh… itu karena kamu belum datang kepada Gusti
Allah. Kalau kamu datang kepada
Gusti
Allah, hidupmu gak bakal sia-sia!”
Kyai Ahmad menambahkan.
Fadhlan
belum mengerti betul apa maksud sebenarnya dari kata ‘datang kepada
Allah’, ia pun menanyakan gambaran kongkrit
tentang hal itu kepada Kyai Ahmad.
Dengan
santai Kyai Ahmad menjelaskan, “Fadlan…, semua masalah di dunia ini
bakal
selesai asal kita datang kepada Allah. Banyak di dunia ini orang yang
bermasalah,
punya
hutang segunung, rezeki sulit, ditimpa berbagai macam penyakit, kemiskinan,
kelaparan
dan lain-lain… Itu disebabkan
karena mereka tidak datang kepada Allah. Kalau
saja
mereka datang kepada Allah, maka segala masalah mereka terselesaikan!”
“Apakah
hanya sesederhana itu, pak Kyai?”
Fadlan bertanya dengan nada penasaran.
“Ya,
hanya sesederhana itu!” Pak kyai
menegaskan.
11
Pak
Kyai bercerita, “Pernah terjadi di
Rusia di sebuah negeri yang terkenal atheis,
seorang
pria pergi ke tukang cukur. Saat rambutnya dicukur, ia terserang kantuk.
Kepalanya
mulai
mengangguk-angguk karena kantuk. Tukang cukur merasa kesal, namun untuk
membangunkan
pelanggannya, si tukang cukur mulai bicara:
‘Pak,
apakah bapak termasuk orang yang percaya tentang adanya Tuhan?’
Pelanggan
menjawab, ‘Ya, saya percaya
adanya Tuhan!’
Agar
pembicaraan tak terhenti, si tukang cukur menimpali,
‘Saya
termasuk orang yang tidak percaya kepada Tuhan!’
‘Apa
alasanmu?’ pelanggan melempar
tanya.
‘Kalau
benar di dunia ini ada Tuhan, dan sifat-Nya adalah Maha Pengasih dan Maha
Penyayang,
menurut saya tidak mungkin di dunia ada orang yang punya banyak masalah,
terlilit
hutang, terserang penyakit, kelaparan, kemiskinan dan lain-lain. Ini khan bukti
sederhana
bahwa di dunia ini tidak ada Tuhan!’
tukang cukur berbicara dengan cukup
lantang.
Si
pelanggan terdiam. Dalam hati, ia berpikir keras mencari jawaban. Namun sayang,
sampai
cukuran selesai pun ia tetap tidak menemukan jawaban. Maka pembicaraan pun
terhenti.
Sementara si tukang cukur tersenyum sinis, seolah ia telah memenangkan
perdebatan.
Akhirnya,
saat cukuran itu selesai, si pelanggan bangkit dari kursi dan ia berikan
ongkos
yang cukup atas jasa cukuran. Tak lupa, ia berterima kasih dan pamit untuk
meninggalkan
tempat. Namun dalam langkahnya, ia masih tetap mencari jawaban atas
perdebatan
kecil yang baru ia jalani.
Saat
berdiri di depan pintu barber shop, ia tarik tungkai pintu kemudian hendak
melangkahkan
kakinya keluar…. saat itu Allah Swt
mengirimkan jawaban padanya.
Matanya
tertumbuk pada seorang pria gila yang berparas awut-awutan. Rambut
panjang
tak terurus, janggut lebat berantakan.
Demi
melihat hal sedemikian, pintu barber shop yang tadi telah ia buka maka ditutup
kembali.
Ia pun datang lagi kepada tukang cukur dan berkata, ‘Pak, menurut saya yang tidak
ada
di dunia ini adalah TUKANG CUKUR!’
Merasa aneh dengan pernyataan itu, tukang
cukur
balik bertanya, ‘Bagaimana bisa Anda
berkata demikian. Padahal baru saja rambut
Anda
saya pangkas!’
‘Begini
pak, di jalan saya dapati ada orang yang kurang waras. Rambutnya panjang
tak
terurus, janggutnya pun lebat berantakan. Kalau benar di dunia ini ada tukang
cukur,
rasanya
tidak mungkin ada pria yang berperawakan seperti itu!’ si pelanggan menyampaikan
penjelasannya.
Tukang
cukur tersenyum, sejenak kemudian dengan enteng ia berkata, ‘Pak…
bukan
Tukang
Cukur yang tidak ada di dunia ini. Masalah sebenarnya adalah pria gila yang
Anda
12
ceritakan
tidak mau hadir dan datang ke sini, ke tempat saya… Andai dia datang, maka
rambut
dan janggutnya akan saya rapihkan sehingga ia tidak berperawakan sedemikian!’
Tiba-tiba
si pelanggan meledakkan suara, ‘Naaaahhhh…. itu dia jawabannya.
Rupanya
Anda juga telah menemukan jawaban dari pertanyaan yang Anda lontarkan!’ ‘Apa
maksudmu?’ si tukang cukur tidak mengerti dengan
pernyataan pelanggannya.
‘Anda
khan bilang bahwa di dunia ini banyak manusia yang punya masalah. Kalau
saja
mereka datang kepada Tuhan, pastilah masalah mereka akan terselesaikan. Persis
sama
kejadiannya
bila pria gila tadi datang kemari dan mencukurkan rambutnya kepada Anda!’”
Kyai
Ahmad mengakhiri kisah yang ia sampaikan. Terlihat Fadlan menganggukkan
kepala
tanda mengerti.
“Jadi…, kamu hanya tinggal memohon saja apa yang
kamu inginkan kepada Allah Swt., pasti
Allah
bakal berikan apa yang kamu pinta!”
Kyai Ahmad berkata memberi garansi.
Fadlan
sudah mulai yakin, tapi ia masih mengejar dengan satu pertanyaan, “Pak Kyai,
saya
sudah niat untuk datang dan semakin mengakrabkan diri kepada Allah. Tapi
bagaimana
caranya
ya pak Kyai agar saya bisa memohon nafkah yang cukup kepada Allah?”
Kemudian
Pak Kyai membacakan ayat dalam Al Qur’an:
“Katakanlah: “Wahai
Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan
kepada orang yang
Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang
Engkau kehendaki.
Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan orang yang
Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau
Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke
dalam siang dan
Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang
hidup dari yang
mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dan Engkau
beri rezeki siapa
yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”. QS. Ali Imran : 26-27
“Bacalah
ayat itu sesering mungkin dan perbanyak doa memohon nafkah serta rezeki yang
halal
dari Allah Swt. Yakinlah bahwa Allah Swt akan senantiasa menjamin penghidupanmu
dan
keluarga!” Kyai Ahmad
mengakhiri pembicaraan dengan memberi pesan.
Usai
pembicaraan dengan Kyai Ahmad, Fadlan merasa yakin bila dirinya hendak mencari
nafkah,
maka cara termudah yang dapat ia kerjakan hanyalah dengan ‘Datang dan Memohon
kepada
Pemilik Nafkah!’
Fadlan
telah meyakini hal ini.
Bagaimana dengan Anda?
Sumber : Bobby Herwibowo
Antara Ayah, Anak dan Burung Gagak
Antara Ayah, Anak dan
Burung Gagak
Pada
suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan
pendidikan
tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di
sekitar
mereka.
Tiba-tiba
seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu
menuding
jari ke arah gagak sambil bertanya,
“Nak,
apakah benda itu?”
“Burung
gagak”, jawab si anak.
Si
ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi
pertanyaan
yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu
menjawab
dengan sedikit kuat,
“Itu
burung gagak, Ayah!”
Tetapi
sejurus kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama.
Si
anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama
diulang-ulang,
lalu menjawab dengan lebih kuat,
“BURUNG
GAGAK!!” Si ayah terdiam
seketika.
Namun
tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang
serupa
hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal
kepada
si ayah,
“Itu
gagak, Ayah.” Tetapi agak
mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi
membuka
mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar
hilang
sabar
dan menjadi marah.
“Ayah!!!
Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal
hal
tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya
katakan????
Itu
burung gagak, burung gagak, Ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu
marah.
Si
ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang
kebingungan.
Sesaat
kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda
itu
kepada
anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary
lama.
“Coba
kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,” pinta si Ayah.
9
Si
anak setuju dan membaca paragraf yang berikut.
“Hari
ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba
seekor
gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan
bertanya,
“Ayah,
apa itu?”
Dan
aku menjawab,
“Burung
gagak.”
Walau
bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku
menjawab
dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi
rasa
cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya.
“Aku
berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”
Setelah
selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si
Ayah
yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,
“Hari
ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau
telah
hilang kesabaran serta marah.”
Lalu
si anak seketika itu juga menangis dan bersimpuh di kedua kaki ayahnya
memohon
ampun atas apa yg telah ia perbuat.
PESAN:
Jagalah hati dan
perasaan kedua orang tuamu, hormatilah mereka.
Sayangilah mereka
sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.
Kita sudah banyak
mempelajari tuntunan Islam apalagi berkenaan dengan berbakti
kepada kedua
orangtua.Tapi berapa banyak yang sudah dimengerti oleh kita apalagi
diamalkan???
Ingat! ingat! Banyak
ilmu bukanlah kunci masuk syurganya Allah.
SEBARKAN ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat….
Tuesday, 9 December 2014
HAKIKAT KEBENARAN
HAKIKAT KEBENARAN
“ Wahai manusia, Sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, Maka berimanlah kamu, Itulah yang lebih baik bagimu...”(Qs. An Nisa:170)
Rosululloh SAW diutus oleh Alloh SWT kepada umatnya untuk membawa kebenaran, karena kebenaran adalah jalan yang akan membawa kita menuju keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Tentunya dengan kita mengikuti apa yang dicontohkan Rosululloh SAW dan tidak boleh menyelisihinya, kalau kita menyelisihi apa yang di contohkan Rosululloh SAW pasti kita akan celaka, dan tentunya kita tidak ingin itu terjadi pada diri kita.
Barangsiapa yang hidupnya tidak dalam kebenaran pasti dalam kesesatan dan setiap perbuatan yang dilakukannya akan senantiasa bertentangan dengan kebenaran, apabila ada orang yang menyerukan kebenaran maka akan di ingkarinya karena hatinya ditutupi oleh dinding-dinding kesesatan dan akibatnya akan semakin tersesat jauh dan semakin jauh dari kebenaran itu. Seperti halnya orang kafir dan musyrik mereka tersesat karena mereka menolak kebenaran, mereka menolak kebenaran dari Al qur’an dan Sunnah sehingga hidupnya tidak terarah karena mereka menjalani kehidupan diatas angan-angan yang kosong dan tertipu, mereka tenggelam dalam nafsu dan syahwat karena mereka tidak terikat dengan kebenaran atau dengan syareat-syareat Alloh. Karena mereka tidak dibimbing dengan kebenaran sehingga apa yang mereka lakukan akan senantiasa bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah dan orang seperti ini akan mendapatkan balasan yang setimpal diakhirat kelak dengan siksa yang sangat pedih dineraka yang menyala-nyala.
Untuk memahami kebenaran diperlukan ilmu yang benar atau ilmu syar’i, karena ilmu yang benar ini akan menjadi pelita dimalam yang gelap gulita yang menyinari setiap langkah kita sehingga kita tidak akan tersesat dan akan sampai ke tujuan dengan selamat.
Menuntut ilmu bagi setiap muslim adalah sesuatu yang mesti ditempuh karena dengan ilmu itu kita dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah sehingga kita akan selalu berada dalam kebenaran. Kalau kita mengaku sebagai seorang muslim pasti tidak akan meninggalkan menuntut ilmu karena menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan menuntut ilmu merupakan ibadah yang mulia dan terpuji. Dengan ilmu seseorang bisa mengenal dan beribadah kepada Robbnya dengan benar. Dalam beberapa ayat Al quran, Alloh memuji dan meninggikan derajat ahli ilmu.“Katakanlah,”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui..” (Qs. Az Zumar:9)
Dengan ilmu seorang hamba akan takut untuk berbuat maksiat sehingga hidupnya akan senantiasa di bimbing dengan kebenaran, ucapanya, tingkah lakunya akan senantiasa dihiasi dengan kebenaran. Sebagaimana dalam firman Alloh“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (Qs. al Fathir;28)
Ilmu juga sebagai simbol atau tanda kebaikan seorang hamba, semakin seorang hamba itu paham ilmu syar’i maka akan semakin baik-lah ia, karena kebaikan hanyalah bagi orang yang berilmu dan orang yang belajar sedangkan orang yang berada diantara keduanya adalah orang yang hina dan tidak ada kebaikan Dalam sebuah hadits Nabi SAW menyebutkan, “Barang siapa yang Allah kehendaki menjadi baik, maka Allah akan fahamkan ia terhadap urusan agama”. (HR. Bukhori dan Muslim )
Satu kalimat yang perlu kita ingat, Apabila kita ingin menjadi benar dan sebenar-benarnya orang maka ikutilah aturan yang paling benar yaitu aturan Alloh SWT dan apabila kita ingin menjadi baik dan sebaik-baik orang maka tidak ada jalan lain kecuali harus mencontoh manusia yang paling baik yaitu Rosululloh SWT.
Mudah-mudahan kita menjadi seorang hamba yang selalu dalam kebaikan dan kebenaran serta diberi pemahaman tentang agama.Amin
dikutip dari ; http://lpmpurbalingga.wordpress.com/
APA ITU CINTA.?
CINTA ADALAH........
Cinta… sebuah kata yang indah, dimana manis dirasa, halus lembut ditelinga. Dengan cinta manusia menjadi sekuat baja. Sebaliknya pula…tanpa cinta, hidup manusia terasa hampa tanpa makna.
Dengan cinta seorang hamba rela melakukan apa saja. Dan atas nama cinta Dien Alloh bisa tersebar kepenjuru jagad raya.
Demi cinta… manusia rela melakukan apa saja. Karena cinta orang muhajirin rela meninggalkan harta benda, bahkan anak dan istrinya. Hal ini dilakukan demi hal yang dicintainya… Alloh dan Rosulnya. Mereka rela melakukan perjalan panjang… melintasi padang pasir gersang. Mereka rela melakukan semua itu demi cintanya pada dien ini, dien yang kita cintai, sampai mati…
Alangkah indahnya… andai insan-insan dihari ini memiliki cinta seperti cinta mereka. Cintanya melebihi cinta pada dunia dan seisinya. Itulah fakta yang ada pada mereka. Mereka orang Anshorpun menyambutnya dengan memenuhi segala kebutuhan saudaranya yang baru datang dari Makkah. Saudara seiman yang membawa harapan, memperkuat tegaknya Islam.
Lalu… bagaimanakah kita di hari ini? Sudahkah kita memilikinya? Tentu jawabanya ada pada diri kita masing-masing.
Mari kita pupuk rasa cinta kita, agar kita memiliki cinta sebagaimana sahabat memilikinya. Cinta pada saudaranya sesama mukmin, seperti cintanya pada diri sendiri, seperti yang telah disinyalir oleh Rasul SAW : ”Tidak sempurna iman seseorang sebelum mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana mencintai dirinya sendiri” (Al Hadits).
Atau dalam firman Alloh SWT ”Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara… (Al Hujurat:10).
Cinta itu bagaikan pelangi hidup. Cantik nan indah… dari jaluran warnanya kita dapat mengenali keindahan.
Dari perjalanan masa, penuh suka cita… atau mungkin duka lara. Yang pasti… tuk menggapainya memerlukan perjalanan yang sangat panjang, kadang memerlukan goresan-goresan penggugah hati, yang barang kali sarat dengan karat-karat ego diri…
Marilah kita bersama merajut benang cinta yang telah ada, agar kita semakin menyatu, bersemi, berkembang dan menaburkan keharuman dimana saja.
Asamu dan asaku adalah satu. Mari bersama tebarkan benih cinta agar tumbuh di seantero jagad raya ini… cinta pada Dien ini… Cinta pada Rosul… agar tapak demi tapak, hari demi hari yang kita lalui senantiasa ikut jalan Rosululloh SAW. Berdo’a disetiap aktivitas kita sebagaimana Rosul berdo’a. Karena kita tahu, Rosul suri tauladan terbaik (Al Ahzab:21)
Disetiap detik, kita senantiasa berdo’a kepada Alloh SWT agar selalu bertambah kebaiakan. Harapan dan keikhlasan, teriring kepada saudara semua yang berkenan menebarkan coretan kecil ini. Dan diharap punya arti untuk meniti kehidupan yang fana ini.
Kebersamaan kita ini hanyalah untuk satu tujuan yang hakiki yaitu kebaikan dan kebenaran. Marilah tetap bersama dalam jalan ini guna menggapai ridho illahi. Jalan ini… jalan Islam… jalan yang paling kita cintai… sampai akhir hayat nanti.
Apa yang tersaji dalam lembar kecil ini tak sampai setitik air dibandingkan luasnya samudra ilmu dan keagungan illahi Rabbi… Alloh SWT. Yang baik tentunya dari Alloh SWT yang keliru atau kurang mohon dimaafkan. Apa yang diluar jangkauan kekuatan kami, kepada Alloh SWT kami memohon ampun dan kembalikan segala urusan….
Dengan cinta seorang hamba rela melakukan apa saja. Dan atas nama cinta Dien Alloh bisa tersebar kepenjuru jagad raya.
Demi cinta… manusia rela melakukan apa saja. Karena cinta orang muhajirin rela meninggalkan harta benda, bahkan anak dan istrinya. Hal ini dilakukan demi hal yang dicintainya… Alloh dan Rosulnya. Mereka rela melakukan perjalan panjang… melintasi padang pasir gersang. Mereka rela melakukan semua itu demi cintanya pada dien ini, dien yang kita cintai, sampai mati…
Alangkah indahnya… andai insan-insan dihari ini memiliki cinta seperti cinta mereka. Cintanya melebihi cinta pada dunia dan seisinya. Itulah fakta yang ada pada mereka. Mereka orang Anshorpun menyambutnya dengan memenuhi segala kebutuhan saudaranya yang baru datang dari Makkah. Saudara seiman yang membawa harapan, memperkuat tegaknya Islam.
Lalu… bagaimanakah kita di hari ini? Sudahkah kita memilikinya? Tentu jawabanya ada pada diri kita masing-masing.
Mari kita pupuk rasa cinta kita, agar kita memiliki cinta sebagaimana sahabat memilikinya. Cinta pada saudaranya sesama mukmin, seperti cintanya pada diri sendiri, seperti yang telah disinyalir oleh Rasul SAW : ”Tidak sempurna iman seseorang sebelum mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana mencintai dirinya sendiri” (Al Hadits).
Atau dalam firman Alloh SWT ”Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara… (Al Hujurat:10).
Cinta itu bagaikan pelangi hidup. Cantik nan indah… dari jaluran warnanya kita dapat mengenali keindahan.
Dari perjalanan masa, penuh suka cita… atau mungkin duka lara. Yang pasti… tuk menggapainya memerlukan perjalanan yang sangat panjang, kadang memerlukan goresan-goresan penggugah hati, yang barang kali sarat dengan karat-karat ego diri…
Marilah kita bersama merajut benang cinta yang telah ada, agar kita semakin menyatu, bersemi, berkembang dan menaburkan keharuman dimana saja.
Asamu dan asaku adalah satu. Mari bersama tebarkan benih cinta agar tumbuh di seantero jagad raya ini… cinta pada Dien ini… Cinta pada Rosul… agar tapak demi tapak, hari demi hari yang kita lalui senantiasa ikut jalan Rosululloh SAW. Berdo’a disetiap aktivitas kita sebagaimana Rosul berdo’a. Karena kita tahu, Rosul suri tauladan terbaik (Al Ahzab:21)
Disetiap detik, kita senantiasa berdo’a kepada Alloh SWT agar selalu bertambah kebaiakan. Harapan dan keikhlasan, teriring kepada saudara semua yang berkenan menebarkan coretan kecil ini. Dan diharap punya arti untuk meniti kehidupan yang fana ini.
Kebersamaan kita ini hanyalah untuk satu tujuan yang hakiki yaitu kebaikan dan kebenaran. Marilah tetap bersama dalam jalan ini guna menggapai ridho illahi. Jalan ini… jalan Islam… jalan yang paling kita cintai… sampai akhir hayat nanti.
Apa yang tersaji dalam lembar kecil ini tak sampai setitik air dibandingkan luasnya samudra ilmu dan keagungan illahi Rabbi… Alloh SWT. Yang baik tentunya dari Alloh SWT yang keliru atau kurang mohon dimaafkan. Apa yang diluar jangkauan kekuatan kami, kepada Alloh SWT kami memohon ampun dan kembalikan segala urusan….
dikutip dari: http://lpmpurbalingga.wordpress.com/
Subscribe to:
Posts (Atom)



